BAB II
MATERI POKOK
AJARAN ISLAM: AQIDAH
A. Pengertian
Aqidah
Kata "‘aqidah" diambil dari kata
dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam
(pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi
kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk
(pengokohan), al-muraashah (erat/rapat) dan al-itsbaatu
(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan)
dan al-jazmu (penetapan).
"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan
kata dari al-hallu (penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata
kerja: "‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), "
‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan "‘Uqdatun Nikah"
(ikatan pernikahan).
Seperti dalam firman
Allah Ta'ala,
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ
بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ
الْأَيْمَانَ
Artinya:
"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak
dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah
yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).
Aqidah artinya
ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang
pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan
perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk
jamak dari aqidah adalah aqaid. Jadi kesimpulannya, apa yang
telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar
ataupun salah.
Sedangkan Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi
tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang
tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan
kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada
orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak
menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada tingkat
keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena
orang itu mengikat hatinya di atas hal tersebut.
Menurut M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan
aqidah menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh
dan terhunjam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya.
Adapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud
Syaltout adalah segi teoritis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari
segala sesuatu untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh
dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keragu-raguan.
Aqidah atau keyakinan adalah suatu nilai
yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya
sendiri, bahkan melebihinya. Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah
sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan
jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keragu-raguan.
Aqidah merupakan
aspek yang harus dimiliki lebih dahulu sebelum yang Iain‐lain. Aqidah itu
harus bulat dan penuh, tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya. Aqidah
yang benar adalah Aqidah yang sesuai dengan ketetapan keterangan‐keterangan yang jelas dan tegas yang terdapat dalam Alquran dan hadits.
Aqidah ini merupakan hal yang utama dan pertama yang harus ditanamkan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa aqidah
adalah pengikat yang menjadi keyakinan yang dianut oleh orang yang beragama
Islam.
B. Ruang
Lingkup Aqidah
Seperti yang sudah disimpulkan di atas bahwa
aqidah adalah pengikat yang menjadi keyakinan yang dianut, maka ruang lingkup
aqidah juga berkenaan dengan keyakinan. Keyakinan itu sendiri disebut dengan
iman. Rukun Iman adalah hal wajib yg mesti diimani/diyakini oleh
seseorang yang mengaku beragama Islam. Tidak meyakini salah satu dari rukun
iman ini, maka keimanan seorang muslim akan diragukan. Adapun ruang lingkup aqidah di antaranya adalah:
1.
Iman
kepada Allah SWT
Meliputi upaya meyakini eksistensi Allah
SWT dengan mempelajari dan mengenal-Nya melalui; dzat, asma’, sifat
(karakteristik) dan af’al (perbuatan-Nya). Titik tekan yang paling utama
adalah pada sifat-Nya yang berupa karakteristik Allah SWT. Dari sifat ini umat
Islam akan dengan mudah mengidentifikasikan sesuatu itu tergolong sebagai khaliq
(pencipta) atau makhluq (yang dicipta). Dalam hal ini pembahasan akan dipisah
garis dikotomi yang tegas antara sifat wajib dan sifat yang mustahil bagi Allah
SWT.
Adapun sifat yang wajib dan mustahil bagi
Allah adalah sebagai berikut:[1]
NO
|
SIFAT WAJIB
|
ARTINYA
|
1
|
Wujud
|
Ada
|
2
|
Qidam
|
Dahulu
|
3
|
Baqa'
|
Kekal
|
4
|
Mukhalafatuhu lil hawadits
|
Berbeda dengan ciptaan-Nya
|
5
|
Qiyamuhu binafsihi
|
Berdiri dengan sendirinya
|
6
|
Wahdaniyyah
|
Esa, tunggal, satu
|
7
|
Qudrah
|
Berkuasa
|
8
|
Iradah
|
Berkehendak
|
9
|
Ilmu
|
Mengetahui
|
10
|
Hayat
|
Hidup
|
11
|
Sam'un
|
Mendengar
|
12
|
Basar
|
Melihat
|
13
|
Kalam
|
Berkata
|
14
|
Qadirun
|
Yang Berkuasa
|
15
|
Muridun
|
Yang Berkehendak
|
16
|
Alimun
|
Yang Mengetahui
|
17
|
Hayyun
|
Yang Hidup
|
18
|
Sami'un
|
Yang Mendengar
|
19
|
Basirun
|
Yang Melihat
|
20
|
Mutakallimun
|
Yang Berbicara
|
Sedangkan sifat
mustahil bagi Allah SWT adalah:
NO
|
SIFAT MUSTAHIL
|
ARTINYA
|
1
|
Adam
|
Tidak ada
|
2
|
Huduus
|
Baru
|
3
|
Fana
|
Rusak
|
4
|
Mumatsalatuhu lil hawadits
|
Sama dengan ciptaan-Nya
|
5
|
Ihtiyaju lighairihi
|
Membutuhkan yang lain
|
6
|
Ta'addud
|
Berbilang
|
7
|
Ajzun
|
Lemah
|
8
|
Karahah
|
Terpaksa
|
9
|
Jahlun
|
Bodoh
|
10
|
Mautun
|
Mati
|
11
|
Samamum
|
Tuli
|
12
|
Umyun
|
Buta
|
13
|
Bukmun
|
Bisu
|
14
|
Ajizun
|
Yang maha lemah
|
15
|
Mukrahun
|
Yang maha terpaksa
|
16
|
Jahilun
|
Yang maha bodoh
|
17
|
Mayyitun
|
Yang mati
|
18
|
Ashamma
|
Yang maha tuli
|
19
|
A'maa
|
Yang maha buta
|
20
|
Abkama
|
Yang maha bisu
|
2.
Iman kepada Malaikat.
Pembahasan
ini meliputi defenisi malaikat dan ragam tugas-tugasnya. Pembahasan juga akan
melingkupi diskursus mengenai kemungkinan manusia untuk melihat wujud malaikat. Firman Allah mengenai adanya malaikat
terdapat dalam surat Al-Anbiya ayat 26-27 yang artinya: ”Sebenarnya
(malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka
itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”
(QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka
diciptakan Allah SWT,
maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman
Allah SWT,
yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak
bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka
selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya:
19-20).
Sebenarnya jumlah malaikat itu banyak dan
jika kita menghitungnya niscaya tidak akan dapat terhitung, akan tetapi ada
sepuluh malaikat serta tugas-tugasnya yang wajib kita imani dan kita ketahui,
yaitu:
1.
Malaikat
Jibril AS bertugas menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya.
3.
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
Pembahasan kitab suci adalah suatu wacana
interkoneksi dengan sejumlah ilmu-ilmu lainnya, ilmu sejarah misalnya. Dengan
menelusuri keimanan kepada kitab, seorang muslim akan diajak turut merunut
kenyataan bahwa Al-Qur’an adalah kitab pamungkas yang paling agung. Ia adalah
mukjizat terakbar dalam sejarah literatur sakral dunia.
4.
Iman kepada para Rasul.
Guna
menyakini eksistensi para Rasul umat Islam dapat merumuskannya dengan terlebih
dahulu mengetahui karakteristik (sifat) sebagai kualifiasi Rasul itu sendiri.
Hal ini meliputi sifat wajib, sifat mustahil dan sifat ja’iznya.
5.
Iman kepada hari akhir atau kiamat.
Hari
akhir atau kiamat yang dimaksud adalah hancurnya seluruh alam semesta di bawah
titah Allah SWT. Pembahasan hari kiamat juga akan mencakup tentang fase-fase
penting yang akan dialami oleh seluruh umat manusia. Fase-fase tersebut antara
lain adalah adanya yaumil ba’ats (hari kebangkitan setelah kematian masal umat
manusia), yaumil hisab (hari perhitungan amal), penitian atas jalur shirat
(jembatan yang membentang di antara syurga dengan terminal perhitungan amal,
dimana di bawah bentangan tersebut tergelarlah samudera neraka). Pembahasan hari kiamat dan alam
setelahnya adalah wacana luas yang meliputi pembahasan-pembahasan tingkatan
neraka dan syurga, nasib kaum kafirin dan fasiqin serta umat yang selamat
mencapai syurga. Pada sisi pendahuluan, umat Islam biasanya juga
akan diajak guna turut mengenal pertanda-pertanda awal ketika hari Kiamat akan
datang. Hal ini penting ditegaskan, sebab bagaimanapun umat Nabi Muhammad
adalah umat akhir zaman yang paling dekat dalam menyambut kehancuran semesta.
6.
Iman
kepada Qada dan qadhar.
Selain membahas permasalahan yang berkaitan dengan rukun iman, akidah Islamiyyah juga mencakup pembahasan peristiwa-peristiwa penting yang bersinggungan dengan keimanan seseorang. Artinya bahwa keimanan seseorang akan batal ketika mengingkari hal-hal tersebut.
Pengingkaran yang berpotensi membatalkan iman seseorang adalah mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram atau Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Dari bumi Palestina Nabi Muhammad SAW diperjalankan menuju Sidhratul Muntaha atau Arasy guna beraudensi dengan Allah SWT. Puncaknya adalah misi pensyari’atan ibadah sholat lima waktu bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Wacana lainnya yang menjadi ruang pembahasan adalah masalah kemampuan manusia untuk melihat langsung kepada Allah SWT kelak di syurga. Hal ini adalah tema krusial dan kontroversial yang menjadi perdebatan kalangan Ulama Kalam selama berabad-abad lamanya. Setiap sekte teologi yang berkembang dalam Islam memiliki pendapat berbeda menyikapi masalah ini.
Pembahasan pokok lainnya di dalam akidah Islamiyyah adalah permasalah Mujtahid dan Mukhalid. Mujtahid menurut Syaikh Thahir bin Saleh al-Jazairi adalah adalah orang yang menguasai sebagian besar kaidah syari’at dan nash-nashnya . Sehingga seorang Mujtahid memungkinkan guna menggali dan menemukan maksud-maksud pensyari’atan suatu hukum agama. Meski ini merupakan wilayah ilmu fikih, namun menjadi hal yang integral di dalam ranah Akidah. Mujtahid adalah sosok sentral yang paling bertanggungjawab menafsirkan dan menanggung akibat atas keputusan suatu konsep hukum yang digagasnya. Sedangkan Mukhalid adalah masyarakat umum umat Islam yang mengikuti pendapat Mujtahid. Meski demikian Mukhalid dibagi menjadi beberapa klasifikasi, dari yang paling awam hingga yang telah mapan pemikirannya. Dalam hal ini selama belum mencapai derajat Mujtahid.
Selain membahas permasalahan yang berkaitan dengan rukun iman, akidah Islamiyyah juga mencakup pembahasan peristiwa-peristiwa penting yang bersinggungan dengan keimanan seseorang. Artinya bahwa keimanan seseorang akan batal ketika mengingkari hal-hal tersebut.
Pengingkaran yang berpotensi membatalkan iman seseorang adalah mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram atau Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Dari bumi Palestina Nabi Muhammad SAW diperjalankan menuju Sidhratul Muntaha atau Arasy guna beraudensi dengan Allah SWT. Puncaknya adalah misi pensyari’atan ibadah sholat lima waktu bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Wacana lainnya yang menjadi ruang pembahasan adalah masalah kemampuan manusia untuk melihat langsung kepada Allah SWT kelak di syurga. Hal ini adalah tema krusial dan kontroversial yang menjadi perdebatan kalangan Ulama Kalam selama berabad-abad lamanya. Setiap sekte teologi yang berkembang dalam Islam memiliki pendapat berbeda menyikapi masalah ini.
Pembahasan pokok lainnya di dalam akidah Islamiyyah adalah permasalah Mujtahid dan Mukhalid. Mujtahid menurut Syaikh Thahir bin Saleh al-Jazairi adalah adalah orang yang menguasai sebagian besar kaidah syari’at dan nash-nashnya . Sehingga seorang Mujtahid memungkinkan guna menggali dan menemukan maksud-maksud pensyari’atan suatu hukum agama. Meski ini merupakan wilayah ilmu fikih, namun menjadi hal yang integral di dalam ranah Akidah. Mujtahid adalah sosok sentral yang paling bertanggungjawab menafsirkan dan menanggung akibat atas keputusan suatu konsep hukum yang digagasnya. Sedangkan Mukhalid adalah masyarakat umum umat Islam yang mengikuti pendapat Mujtahid. Meski demikian Mukhalid dibagi menjadi beberapa klasifikasi, dari yang paling awam hingga yang telah mapan pemikirannya. Dalam hal ini selama belum mencapai derajat Mujtahid.
C. Sumber Aqidah Islam
Ada tiga referensi aqidah Islam yang mana seluruh muatan
ilmu Aqidah dan semua metode berasal
dan bersumber dari sana, yaitu ; Alquran, Alhadits,
dan akal sehat. Berikut akan diperjelas :
Alquran
Alquran yang mulia adalah sumber pertama seluruh
kandungan syariat Islam, baik yang bersifat
pokok maupun cabang. Semua sumber syariat Islam yang
lain adalah sumber yang sepenuhnya
merujuk kepada alquran. Selain bahwa ia adalah Kalam
Allah, juga keabsahan dan kemurnian
seluruh lafaz dan makna Alquran terjaga sepanjang masa
yang tak pernah diragukan oleh ummat ini.
Seluruh pernyataan Allah dapat dimengerti oleh akal
sehat, namun karena keterbatasan dan
kelemahan manusia berkenaan dengan niat, akal, dan
penerapan metode penafsiran dan
pengambilan dalil, kesalahan sangat mungkin dilakukan.
Oleh karena itu para ulama telah menyusun
sejumlah prinsip dan kaidah yang dapat menghindarkan
dari berbagai bentuk kesalahan dalam
memahami Alquran, berikut kami sarikan prinsip yang
paling utama dan terpenting :
1. Seseorang yang belum menjumpai jawaban yang
dicarinya pertama kali ia harus menafsirkan
Alquran dengan Alquran sendiri, sebab begitulah
karakter Alquran ; bagian yang satu
menjelaskan bagian yang lain.
2. Apabila penjelasan yang dicari tidak terdapat dalam
Alquran maka harus dikembalikan
kepada Sunnah Rasulullah SAW, sebab beliaulah yang
paling mengerti risalah yang
disampaikannya.
3. Apabila tidak ditemukan penjelasan yang dicari maka
harus kembali kepada penafsiran para
sahabat, sebab merekalah saksi dari turunnya wahyu dan
murid‐murid pertama dan yang
paling dekat dengan Rasulullah SAW.
4. Jika dari kalangan sahabat tidak didapati
penjelasannya maka harus mencarinya dari
penjelasan para tabiin, karena mereka adalah murid‐murid para sahabat. Apabila dari
merekapun tidak ditemukan jawabannya maka selanjutnya
harus mengacu kepada bahasa
arab yang dengan bahasa itulah Allah menurunkan
Alquran, kita dapat mengetahui makna
ayat‐ayat Alquran dengan mengenali makna kata‐katanya dalam bahasa arab, bentuk
penggunaan dari pola‐pola pengungkapannya,
sesuai firmanya (QS Yusuf;2) oleh karena itu
diwajibkan mempelajari bahasa Arab bagi kaum muslimin
yang ingin berinteraksi dengan
Alquran secara dalam.
Materi ke 4 minggu depan akan memerinci mengenai
sumber kedua ilmu Aqidah yakni : Assunah.
Hadits.
Sumber referensi kedua agama Islam adalah Alhadits.
Demikian pula Aqidah, ia merujuk dan
mengambil kandungan ilmunya dari sini. Ini sesuai
Firman Allah :
“dan tidaklah patut bagi laki‐laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan Rasul‐Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul‐Nya Maka sungguhlah
Dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS Al Ahzab:36 ),
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa dalam hati
mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.”(QS An‐Nisa:65),
“......apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka
terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”(QS Al
Hasyr:7 ).
Komentar yang sangat bagus tentang ini layak kita
simak, dari DR. Ibrahim Muhammad bin Abdullah
Al‐Buraikan ; “Sunnah Rasulullah SAW adalah penjelasan
dan tafsir yang dapat menyingkap rahasia
muatan dan hukum yang terdapat dalam Alquran. Ia
menafsirkan ayat‐ayat yang masih bersifat
umum dan menjelaskan ayat‐ayat yang masih
samar . semua sunnah yang datang dari Rasulullah
SAW adalah upaya menyampaikan Alquran. Maka ia
sepenuhnya kebenaran dan kejujuran, bahkan
ia merupakan kalam terfasih setelah Kalam Allah.”
Keotentikan sumber ini terjaga dengan baik oleh metode
dan kritik sanad, keistimewaan ini masih
terlestarikan dengan sempurna sampai sekarang. Ini
merupakan keistimewaan yang tidak terdapat
pada agama manapun.
Materi ke 5 minggu depan akan memerinci mengenai
sumber ketiga ilmu Aqidah yakni : Akal
Akal.
Akal disebut sebagai sumber referensi Islam dalam
pengertian yang sedikit berbeda. Akal lebih mirip
sebagai antena bagi radio, dia dibutuhkan sebagai
penangkap sinyal dan penyebar sinyal. Stasiun
radio tidak mampu kita dengar siarannya tanpa bantuan
antena. Demikian juga dengan maknamakna
hebat Alquran dan Alhadits tidak mungkin dapat
dimunculkan tanpa menggunakan Akal
sehat.
Syariat Islam begitu memuliakan akal ; Allah SWT hanya
menyampaikan Kalam‐Nya kepada orangorang
yang berakal, Akal merupakan syarat seorang manusia
menerima taklif (beban hukum) oleh
karenanya orang gila bebas dari aturan hukum, Allah
mencela orang yang tidak menggunakan
akalnya dengan benar, begitu banyak perintah Allah
agar manusia menggunakan Akalnya dengan
redaksi ; Mudah‐mudahan kamu berpikir, apakah kamu tidak berakal?,
Apakah mereka tidak
mentadaburi isi kandungan Alquran? Dan banyak yang
lain serupa itu. Semuanya merupakan bukti
kemuliaan akal dalam pandangan Allah.
Ada dua kelompok manusia yang begitu ekstrim dalam
menyikapi akal ini, ada yang memandangnya
sebagai satu‐satunya dasar dan sumber kebenaran sehingga mereka
mengabaikan aspek wahyu.
Kelompok satunya terlalu mengabaikan akal sehingga
menganggap akal sama sekali bukan alat, dan
dasar dari mencari kebenaran. Syariat Islam mendudukan
akal dalam posisi yang tepat dan
seimbang, yakni menjadikannya alat untuk mencari isi
dan makna Alquran dan Alhadits, dan
meletakkan akal sebagai potensi positif yang dipandu
oleh Alquran dan Alhadits, produk pikiran yang
mengandung kebenaran dikonfirmasi sedangkan yang
mengandung kekeliruan diluruskan.
Dengan demikian kita telah memahami darimana ilmu
Aqidah mendapati kandungan isinya ; yakni
dari Wahyu yang terpatri dalam Quran dan Sunnah yang
terjabarkan dengan penggunaan akal sehat
para Ulama.
D.
Kesimpulan
Akidah Islamiyyah adalah suatu cabang keilmuan terapan yang wajib diketahui dan dipahami oleh seluruh umat Islam. Sebagai pengajaran akan pokok keimanan yang membentuk mentalitas dan keyakinan, maka akidah Islamiyyah akan berpengaruh menggerakkan seseorang untuk lebih bersemangat di dalam upaya mengisi hidupnya sebagai bekal menempuh perjalanan setelah masa kematiannya.
Akidah Islamiyyah adalah suatu cabang keilmuan terapan yang wajib diketahui dan dipahami oleh seluruh umat Islam. Sebagai pengajaran akan pokok keimanan yang membentuk mentalitas dan keyakinan, maka akidah Islamiyyah akan berpengaruh menggerakkan seseorang untuk lebih bersemangat di dalam upaya mengisi hidupnya sebagai bekal menempuh perjalanan setelah masa kematiannya.
E.
Referensi
M. Warsun Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: , 1984).
M. Warsun Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: , 1984).
Thahir
bin Saleh al-Jazairi, Terjemah Jawahir Kalamiyah, terj. (Surabaya: Al-Hidayah,
t.t).
Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)
Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)
D.
[1]http://seputarduniaanak.blogspot.com/2010/11/sifat-wajib-bagi-allah-dan-sifat.html.
diakses tanggal 1 April 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar