Sabtu, 09 Juni 2012

MATERI POKOK AJARAN ISLAM: AQIDAH


BAB II
MATERI POKOK AJARAN ISLAM: AQIDAH

A.     Pengertian Aqidah
Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan), al-muraashah (erat/rapat) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).
"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu (penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: "‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan "‘Uqdatun Nikah" (ikatan pernikahan).
Seperti dalam firman Allah Ta'ala,
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ
Artinya: "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).
Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqaid. Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.
Sedangkan Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada tingkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya di atas hal tersebut.
Menurut M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan aqidah menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh dan terhunjam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya.
Adapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud Syaltout adalah segi teoritis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari segala sesuatu untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keragu-raguan.
Aqidah atau keyakinan adalah suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya. Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keragu-raguan.
Aqidah merupakan aspek yang harus dimiliki lebih dahulu sebelum yang Iainlain. Aqidah itu harus bulat dan penuh, tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya. Aqidah yang benar adalah Aqidah yang sesuai dengan ketetapan keteranganketerangan yang jelas dan tegas yang terdapat dalam Alquran dan hadits. Aqidah ini merupakan hal yang utama dan pertama yang harus ditanamkan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa aqidah adalah pengikat yang menjadi keyakinan yang dianut oleh orang yang beragama Islam.

B.     Ruang Lingkup Aqidah
Seperti yang sudah disimpulkan di atas bahwa aqidah adalah pengikat yang menjadi keyakinan yang dianut, maka ruang lingkup aqidah juga berkenaan dengan keyakinan. Keyakinan itu sendiri disebut dengan iman. Rukun Iman adalah hal wajib yg mesti diimani/diyakini oleh seseorang yang mengaku beragama Islam. Tidak meyakini salah satu dari rukun iman ini, maka keimanan seorang muslim akan diragukan. Adapun ruang lingkup aqidah di antaranya adalah:
1.      Iman kepada Allah SWT
Meliputi upaya meyakini eksistensi Allah SWT dengan mempelajari dan mengenal-Nya melalui; dzat, asma’, sifat (karakteristik) dan af’al (perbuatan-Nya). Titik tekan yang paling utama adalah pada sifat-Nya yang berupa karakteristik Allah SWT. Dari sifat ini umat Islam akan dengan mudah mengidentifikasikan sesuatu itu tergolong sebagai khaliq (pencipta) atau makhluq (yang dicipta). Dalam hal ini pembahasan akan dipisah garis dikotomi yang tegas antara sifat wajib dan sifat yang mustahil bagi Allah SWT.
Adapun sifat yang wajib dan mustahil bagi Allah adalah sebagai berikut:[1]














NO
SIFAT WAJIB
ARTINYA
1
Wujud
Ada
2
Qidam
Dahulu
3
Baqa'
Kekal
4
Mukhalafatuhu lil hawadits
Berbeda dengan ciptaan-Nya
5
Qiyamuhu binafsihi
Berdiri dengan sendirinya
6
Wahdaniyyah
Esa, tunggal, satu
7
Qudrah
Berkuasa
8
Iradah
Berkehendak
9
Ilmu
Mengetahui
10
Hayat
Hidup
11
Sam'un
Mendengar
12
Basar
Melihat
13
Kalam
Berkata
14
Qadirun
Yang Berkuasa
15
Muridun
Yang Berkehendak
16
Alimun
Yang Mengetahui
17
Hayyun
Yang Hidup
18
Sami'un
Yang Mendengar
19
Basirun
Yang Melihat
20
Mutakallimun
Yang Berbicara






Sedangkan sifat mustahil bagi Allah SWT adalah:
NO
SIFAT MUSTAHIL
ARTINYA
1
Adam
Tidak ada
2
Huduus
Baru
3
Fana
Rusak
4
Mumatsalatuhu lil hawadits
Sama dengan ciptaan-Nya
5
Ihtiyaju lighairihi
Membutuhkan yang lain
6
Ta'addud
Berbilang
7
Ajzun
Lemah
8
Karahah
Terpaksa
9
Jahlun
Bodoh
10
Mautun
Mati
11
Samamum
Tuli
12
Umyun
Buta
13
Bukmun
Bisu
14
Ajizun
Yang maha lemah
15
Mukrahun
Yang maha terpaksa
16
Jahilun
Yang maha bodoh
17
Mayyitun
Yang mati
18
Ashamma
Yang maha tuli
19
A'maa
Yang maha buta
20
Abkama
Yang maha bisu


2.      Iman kepada Malaikat.
Pembahasan ini meliputi defenisi malaikat dan ragam tugas-tugasnya. Pembahasan juga akan melingkupi diskursus mengenai kemungkinan manusia untuk melihat wujud malaikat. Firman Allah mengenai adanya malaikat terdapat dalam surat Al-Anbiya ayat 26-27 yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah SWT, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah SWT, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Sebenarnya jumlah malaikat itu banyak dan jika kita menghitungnya niscaya tidak akan dapat terhitung, akan tetapi ada sepuluh malaikat serta tugas-tugasnya yang wajib kita imani dan kita ketahui, yaitu:
1.      Malaikat Jibril AS bertugas menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya.


3.      Iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
Pembahasan kitab suci adalah suatu wacana interkoneksi dengan sejumlah ilmu-ilmu lainnya, ilmu sejarah misalnya. Dengan menelusuri keimanan kepada kitab, seorang muslim akan diajak turut merunut kenyataan bahwa Al-Qur’an adalah kitab pamungkas yang paling agung. Ia adalah mukjizat terakbar dalam sejarah literatur sakral dunia.
4.      Iman kepada para Rasul.
Guna menyakini eksistensi para Rasul umat Islam dapat merumuskannya dengan terlebih dahulu mengetahui karakteristik (sifat) sebagai kualifiasi Rasul itu sendiri. Hal ini meliputi sifat wajib, sifat mustahil dan sifat ja’iznya.
5.      Iman kepada hari akhir atau kiamat.
Hari akhir atau kiamat yang dimaksud adalah hancurnya seluruh alam semesta di bawah titah Allah SWT. Pembahasan hari kiamat juga akan mencakup tentang fase-fase penting yang akan dialami oleh seluruh umat manusia. Fase-fase tersebut antara lain adalah adanya yaumil ba’ats (hari kebangkitan setelah kematian masal umat manusia), yaumil hisab (hari perhitungan amal), penitian atas jalur shirat (jembatan yang membentang di antara syurga dengan terminal perhitungan amal, dimana di bawah bentangan tersebut tergelarlah samudera neraka). Pembahasan hari kiamat dan alam setelahnya adalah wacana luas yang meliputi pembahasan-pembahasan tingkatan neraka dan syurga, nasib kaum kafirin dan fasiqin serta umat yang selamat mencapai syurga. Pada sisi pendahuluan, umat Islam biasanya juga akan diajak guna turut mengenal pertanda-pertanda awal ketika hari Kiamat akan datang. Hal ini penting ditegaskan, sebab bagaimanapun umat Nabi Muhammad adalah umat akhir zaman yang paling dekat dalam menyambut kehancuran semesta.
6.      Iman kepada Qada dan qadhar.

Selain membahas permasalahan yang berkaitan dengan rukun iman, akidah Islamiyyah juga mencakup pembahasan peristiwa-peristiwa penting yang bersinggungan dengan keimanan seseorang. Artinya bahwa keimanan seseorang akan batal ketika mengingkari hal-hal tersebut.
Pengingkaran yang berpotensi membatalkan iman seseorang adalah mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram atau Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Dari bumi Palestina Nabi Muhammad SAW diperjalankan menuju Sidhratul Muntaha atau Arasy guna beraudensi dengan Allah SWT. Puncaknya adalah misi pensyari’atan ibadah sholat lima waktu bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Wacana lainnya yang menjadi ruang pembahasan adalah masalah kemampuan manusia untuk melihat langsung kepada Allah SWT kelak di syurga. Hal ini adalah tema krusial dan kontroversial yang menjadi perdebatan kalangan Ulama Kalam selama berabad-abad lamanya. Setiap sekte teologi yang berkembang dalam Islam memiliki pendapat berbeda menyikapi masalah ini.
Pembahasan pokok lainnya di dalam akidah Islamiyyah adalah permasalah Mujtahid dan Mukhalid. Mujtahid menurut Syaikh Thahir bin Saleh al-Jazairi adalah adalah orang yang menguasai sebagian besar kaidah syari’at dan nash-nashnya . Sehingga seorang Mujtahid memungkinkan guna menggali dan menemukan maksud-maksud pensyari’atan suatu hukum agama. Meski ini merupakan wilayah ilmu fikih, namun menjadi hal yang integral di dalam ranah Akidah. Mujtahid adalah sosok sentral yang paling bertanggungjawab menafsirkan dan menanggung akibat atas keputusan suatu konsep hukum yang digagasnya. Sedangkan Mukhalid adalah masyarakat umum umat Islam yang mengikuti pendapat Mujtahid. Meski demikian Mukhalid dibagi menjadi beberapa klasifikasi, dari yang paling awam hingga yang telah mapan pemikirannya. Dalam hal ini selama belum mencapai derajat Mujtahid.


C.     Sumber Aqidah Islam
Ada tiga referensi aqidah Islam yang mana seluruh muatan ilmu Aqidah dan semua metode berasal
dan bersumber dari sana, yaitu ; Alquran, Alhadits, dan akal sehat. Berikut akan diperjelas :
Alquran
Alquran yang mulia adalah sumber pertama seluruh kandungan syariat Islam, baik yang bersifat
pokok maupun cabang. Semua sumber syariat Islam yang lain adalah sumber yang sepenuhnya
merujuk kepada alquran. Selain bahwa ia adalah Kalam Allah, juga keabsahan dan kemurnian
seluruh lafaz dan makna Alquran terjaga sepanjang masa yang tak pernah diragukan oleh ummat ini.
Seluruh pernyataan Allah dapat dimengerti oleh akal sehat, namun karena keterbatasan dan
kelemahan manusia berkenaan dengan niat, akal, dan penerapan metode penafsiran dan
pengambilan dalil, kesalahan sangat mungkin dilakukan. Oleh karena itu para ulama telah menyusun
sejumlah prinsip dan kaidah yang dapat menghindarkan dari berbagai bentuk kesalahan dalam
memahami Alquran, berikut kami sarikan prinsip yang paling utama dan terpenting :
1. Seseorang yang belum menjumpai jawaban yang dicarinya pertama kali ia harus menafsirkan
Alquran dengan Alquran sendiri, sebab begitulah karakter Alquran ; bagian yang satu
menjelaskan bagian yang lain.
2. Apabila penjelasan yang dicari tidak terdapat dalam Alquran maka harus dikembalikan
kepada Sunnah Rasulullah SAW, sebab beliaulah yang paling mengerti risalah yang
disampaikannya.
3. Apabila tidak ditemukan penjelasan yang dicari maka harus kembali kepada penafsiran para
sahabat, sebab merekalah saksi dari turunnya wahyu dan muridmurid pertama dan yang
paling dekat dengan Rasulullah SAW.
4. Jika dari kalangan sahabat tidak didapati penjelasannya maka harus mencarinya dari
penjelasan para tabiin, karena mereka adalah muridmurid para sahabat. Apabila dari
merekapun tidak ditemukan jawabannya maka selanjutnya harus mengacu kepada bahasa
arab yang dengan bahasa itulah Allah menurunkan Alquran, kita dapat mengetahui makna
ayatayat Alquran dengan mengenali makna katakatanya dalam bahasa arab, bentuk
penggunaan dari polapola pengungkapannya, sesuai firmanya (QS Yusuf;2) oleh karena itu
diwajibkan mempelajari bahasa Arab bagi kaum muslimin yang ingin berinteraksi dengan
Alquran secara dalam.
Materi ke 4 minggu depan akan memerinci mengenai sumber kedua ilmu Aqidah yakni : Assunah.
Hadits.
Sumber referensi kedua agama Islam adalah Alhadits. Demikian pula Aqidah, ia merujuk dan
mengambil kandungan ilmunya dari sini. Ini sesuai Firman Allah :
“dan tidaklah patut bagi lakilaki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya Maka sungguhlah
Dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS Al Ahzab:36 ),
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati
mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.”(QS AnNisa:65),
“......apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”(QS Al
Hasyr:7 ).
Komentar yang sangat bagus tentang ini layak kita simak, dari DR. Ibrahim Muhammad bin Abdullah
AlBuraikan ; “Sunnah Rasulullah SAW adalah penjelasan dan tafsir yang dapat menyingkap rahasia
muatan dan hukum yang terdapat dalam Alquran. Ia menafsirkan ayatayat yang masih bersifat
umum dan menjelaskan ayatayat yang masih samar . semua sunnah yang datang dari Rasulullah
SAW adalah upaya menyampaikan Alquran. Maka ia sepenuhnya kebenaran dan kejujuran, bahkan
ia merupakan kalam terfasih setelah Kalam Allah.”
Keotentikan sumber ini terjaga dengan baik oleh metode dan kritik sanad, keistimewaan ini masih
terlestarikan dengan sempurna sampai sekarang. Ini merupakan keistimewaan yang tidak terdapat
pada agama manapun.
Materi ke 5 minggu depan akan memerinci mengenai sumber ketiga ilmu Aqidah yakni : Akal
Akal.
Akal disebut sebagai sumber referensi Islam dalam pengertian yang sedikit berbeda. Akal lebih mirip
sebagai antena bagi radio, dia dibutuhkan sebagai penangkap sinyal dan penyebar sinyal. Stasiun
radio tidak mampu kita dengar siarannya tanpa bantuan antena. Demikian juga dengan maknamakna
hebat Alquran dan Alhadits tidak mungkin dapat dimunculkan tanpa menggunakan Akal
sehat.
Syariat Islam begitu memuliakan akal ; Allah SWT hanya menyampaikan KalamNya kepada orangorang
yang berakal, Akal merupakan syarat seorang manusia menerima taklif (beban hukum) oleh
karenanya orang gila bebas dari aturan hukum, Allah mencela orang yang tidak menggunakan
akalnya dengan benar, begitu banyak perintah Allah agar manusia menggunakan Akalnya dengan
redaksi ; Mudahmudahan kamu berpikir, apakah kamu tidak berakal?, Apakah mereka tidak
mentadaburi isi kandungan Alquran? Dan banyak yang lain serupa itu. Semuanya merupakan bukti
kemuliaan akal dalam pandangan Allah.
Ada dua kelompok manusia yang begitu ekstrim dalam menyikapi akal ini, ada yang memandangnya
sebagai satusatunya dasar dan sumber kebenaran sehingga mereka mengabaikan aspek wahyu.
Kelompok satunya terlalu mengabaikan akal sehingga menganggap akal sama sekali bukan alat, dan
dasar dari mencari kebenaran. Syariat Islam mendudukan akal dalam posisi yang tepat dan
seimbang, yakni menjadikannya alat untuk mencari isi dan makna Alquran dan Alhadits, dan
meletakkan akal sebagai potensi positif yang dipandu oleh Alquran dan Alhadits, produk pikiran yang
mengandung kebenaran dikonfirmasi sedangkan yang mengandung kekeliruan diluruskan.
Dengan demikian kita telah memahami darimana ilmu Aqidah mendapati kandungan isinya ; yakni
dari Wahyu yang terpatri dalam Quran dan Sunnah yang terjabarkan dengan penggunaan akal sehat
para Ulama.
D. Kesimpulan
Akidah Islamiyyah adalah suatu cabang keilmuan terapan yang wajib diketahui dan dipahami oleh seluruh umat Islam. Sebagai pengajaran akan pokok keimanan yang membentuk mentalitas dan keyakinan, maka akidah Islamiyyah akan berpengaruh menggerakkan seseorang untuk lebih bersemangat di dalam upaya mengisi hidupnya sebagai bekal menempuh perjalanan setelah masa kematiannya.
E. Referensi
M. Warsun Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: , 1984).
Thahir bin Saleh al-Jazairi, Terjemah Jawahir Kalamiyah, terj. (Surabaya: Al-Hidayah, t.t).
Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Post Modernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)

D.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar