Sabtu, 09 Juni 2012

MAKALAH FUNGSI MATERI PENUNJANG TERHADAP MATERI POKOK

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial.
Dengan demikian yang tinggi dari tujuan Pendidikan Agama Islam, maka diperlukan penunjang demi keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah, sehingga materi penunjang tersebut tentunya memiliki fungsi terhadap materi pokok pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana pengertian dari materi penunjang?
2.      Apa fungsi dari materi penunjang terhadap materi pokok?

C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Pengertian dari materi penunjang.
2.      Fungsi dari materi penunjang terhadap materi pokok.




















BAB II
FUNGSI MATERI PENUNJANG TERHADAP MATERI POKOK

A.     Pengertian Materi Penunjang dalam Pendidikan Agama Islam
Menurut Keen dan Scoot Morton: “materi penunjang atau pendukung merupakan penggabungan sumber-sumber materi lain dengan kemampuan komponen materi untuk memperbaiki kualitas suatu materi yang lebih pokok”.[1]
Dengan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa materi pendukung bukan merupakan bagian materi pokok, melainkan merupakan materi yang membantu menyempurnakan mateei pokok dengan melengkapi mereka dengan informasi dari data yang relevan dan diperlukan untuk kesempurnaan materi pokok tersebut.
Materi penunjang dalam materi Pendidikan Agama Islam meliputi seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah karena di dalam Pendidikan Agama Islam secara tidak langsung hal-hal yang berkenaan dengan seluruh mata pelajaran tersebut diterangkan di dalam ajaran Islam.

B.     Fungsi Materi Penunjang terhadap Materi Pokok
Berbagai fungsi dari materi penunjang antara lain adalah:
1.      Sebagai Penguat (Bayan Taqrir)
Di dalam materi penunjang terdapat berbagai macam mata pelajaran yang di dalamnya dapat dijadikan penguat dari materi yang ada dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Sebagai contoh adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso,dkk, merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal”.[2]
Menurut Abdullah Aly & Eny Rahma, IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”. [3]
Menurut Sumaji, IPA merupakan “suatu ilmu pengetahuan sosial yang merupakan disiplin ilmu bukan bersifat teoritis melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin ilmu yang bersifat produktif”.[4]
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.
Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika, Biologi dan Kimia. Pada aspek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada aspek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingfkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam.
Di dalam IPA, dipelajari tentang alam. Islam sebagai agama yang memiliki ajaran yang universal tentunya mengatur juga tentang alam, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang alam semesta diantaranya:
Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y ;Nºuq»yJy $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3ts? Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö$$sù uŽ|Çt7ø9$# ö@yd 3ts? `ÏB 9qäÜèù ÇÌÈ §NèO ÆìÅ_ö$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ y7øs9Î) çŽ|Çt7ø9$# $Y¥Å%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ
Artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4).[5]
Melalui sudut pandang IPA, di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.
Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Dengan demikian sangat jelas bahwa keberadaan IPA dapat memberi penguatan kebenaran dari ajaran-ajaran yang diberikan oleh Pendidikan Agama Islam.
2.      Sebagai pemberi penjelasan (Bayan Tafshil)
Sebagai contoh adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Di dalam Islam diajarkan tentang bersilaturahi antar sesama manusia. Di dalam IPS, materi silaturahmi dijlaskan secara jelas dan terperinci mulai dari pengertian sampai ke macam-macam interaksi sosial.
tujuan tersebut tujuan pendidikan IPS menurut E.Mulyasa adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”.[6]
 Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu: (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan.[7]
Di dalam agama Islam, ajaran tentang kemasyarakatan di sebut dengan habluminannas, sehingga ada keterkaitan dan saling mendukung antara pendidikan/pembelajaran IPS dengan materi PAI. Sebagai contoh adalah sebuah ayat Al-Qur’an tentang sosial yaitu:
}§øŠ©9 n?tã 4yJôãF{$# Óltym Ÿwur n?tã ÆltôãF{$# Óltym Ÿwur n?tã Çك̍yJø9$# Óltym Ÿwur #n?tã öNà6Å¡àÿRr& br& (#qè=ä.ù's? .`ÏB öNà6Ï?qãç/ ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ͬ!$t/#uä ÷rr& ÏNqãç/ öNä3ÏG»yg¨Bé& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ÏNqãç/ öNà6Ï?ºuqyzr& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏJ»uHùår& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏG»¬Hxå ÷rr& ÏNqãç/ öNä3Ï9ºuq÷zr& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏG»n=»yz ÷rr& $tB OçFò6n=tB ÿ¼çmptÏB$xÿ¨B ÷rr& öNà6É)ƒÏ|¹ 4 š[øs9 öNà6øn=tæ îy$oYã_ br& (#qè=à2ù's? $·èŠÏJy_ ÷rr& $Y?$tGô©r& 4 #sŒÎ*sù OçFù=yzyŠ $Y?qãç/ (#qßJÏk=|¡sù #n?tã öNä3Å¡àÿRr& Zp¨ŠÏtrB ô`ÏiB ÏYÏã «!$# ZpŸ2t»t7ãB Zpt6ÍhŠsÛ 4 šÏ9ºxŸ2 ÚúÎiüt7ムª!$# ãNà6s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 šcqè=É)÷ès? ÇÏÊÈ
Artinya: “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya”. (QS: Shad: 61).[8]
Dalam ilmu sosial (IPS) antar anggota masyarakat diharapkan adanya interaksi sosial. Interaksi sosial dalam IPS memiliki peranan penting dalam kaitannya meningkatkan persatuan masyarakat. Dalam ayat di atas jelas mengajarkan adanya interaksi sosial baik antar kerabat maupun orang lain. Di dalam Islam diajarkan cara berinteraksi yang baik yaitu dengan saling menebar salam antar sesamanya.
Di dalam IPS interaksi sosial memiliki aturan dan peranan tersendiri dalam tatanan kehidupan sehingga mata pelajaran IPS dpat menjadi penjelas dari materi pokok ajaran Islam yang meliputi Aqidah, Syariah, Muamalah.
3.      Sebagai pemberi kekhususan (Bayan Takhsis)
Materi penunjang merupakan materi yang memberikan arah khusus dari materi Pendidikan Agama Islam. Sebagian besar ajaran Islam adalah hal-hal yang bersifat umum. Sebagai contoh adalah ayat berikut:
z`ÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB ÎŽtIô±tƒ uqôgs9 Ï]ƒÏysø9$# ¨@ÅÒãÏ9 `tã È@Î6y «!$# ÎŽötóÎ/ 5Où=Ïæ $ydxÏ­Gtƒur #·râèd 4 y7Í´¯»s9'ré& öNçlm; Ò>#xtã ×ûüÎgB ÇÏÈ
Artinya: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.[9]
Di dalam al-Qur’an ini Allah menyebutkan bahwa ada manusia yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Di dalam mata pelajaran budi pekerti, hal tersebut lebih ditegaskan atau di khususkan dan diperinci lagi yaitu perkataan tersebut ada yang sesua dengan adab atau pekerti atau tidak. Perkataan yang tidak beradab inilah menjadi kategori perkataan yang tidak bermanfaat tersebut. Sehingga jelas pembelajaran budi pekerti berfungsi sebagai penjelas bagi pembelajaran Pendidikan Agama Islam
4.      Sebagai pemberi motivasi
Di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, kebanyakan mengisyaratkan adanya perubahan di dalam kehidupan. Seorang muslim harus berusaha keras untuk mengubah nasibnya karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubahnya sendiri dan berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana firman Allah:
9e@ä3Ï9ur îpygô_Ír uqèd $pkŽÏj9uqãB ( (#qà)Î7tFó$$sù ÏNºuŽöyø9$# 4 tûøïr& $tB (#qçRqä3s? ÏNù'tƒ ãNä3Î/ ª!$# $·èŠÏJy_ 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇÊÍÑÈ
Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Di dalam materi Psikologi diajarkan pentingnya motivasi dalam kehidupan bahkan motivasi diarikan sebagai “dorongan dari dalam jiwa seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan suatu aktivitas tertentu”.[10]
Dengan demikian, materi penunjang dapat berfungsi sebagai motivator dalam materi Pendidikan Agama Islam.




BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Materi pendukung bukan merupakan bagian materi pokok, melainkan merupakan materi yang membantu menyempurnakan mateei pokok dengan melengkapi mereka dengan informasi dari data yang relevan dan diperlukan untuk kesempurnaan materi pokok tersebut.
Materi penunjang dalam materi Pendidikan Agama Islam meliputi seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah karena di dalam Pendidikan Agama Islam secara tidak langsung hal-hal yang berkenaan dengan seluruh mata pelajaran tersebut diterangkan di dalam ajaran Islam.
Fungsi dari materi penunjang terhadap materi pokok antara lain:
1.      Sebagai pemberi penguatan.
2.      Sebagai pemberi penjelasan.
3.      Sebagai pemberi pengkhususan.
4.      Sebagai pemberi motivasi.

B.     Saran
Semoga dengan makalah ini dapat memberikan gambaran yan lebih jelas tentang fungsi materi penunjang terhadap materi pokok ajaran Pendidikan Agama Islam.









DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Aly & Eny Rahma, (2008), Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara.
Alex Sobur, (2009),  Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia.
Depag RI, (2007), Al-Qur’an dan Terjemahnya Perkata, Jakarta: Syaamil Al-Qur’an.
E.Mulyasa, (2008), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
http://lissoi.multiply.com/journal/item/35, diakses tanggal 28 April 2011.
Mangun Wijaya Sumaji, dkk, (2008), Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisus.
Oemar Hamalik, (2006),  Psikologi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Suyoso, dkk, (2008), Ilmu Alamiah Dasar, Yogyakarta: IKIP.


 


[1]http://lissoi.multiply.com/journal/item/35, diakses tanggal 28 April 2011.
[2]Suyoso, dkk, Ilmu Alamiah Dasar, (Yogyakart: IKIP, 2008), hal. 28.
[3]Abdullah Aly & Eny Rahma, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal. 18.
[4]Mangun Wijaya Sumaji, dkk, Pendidikan Sains yang Humanistis. (Yogyakarta: Kanisus, 2008), hal. 46.
[5]Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Perkata, (Jakarta: Syaamil Al-Qur’an, 2007), hal. 562.
[6]E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 24.
[7]Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hal. 41-42.
[8]Depag RI, op.cit., hal. 562.
[9]Ibid. hal. 35.
[10]Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hal.. 123.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar